Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

banner cak
PORTRAY 2







Gallery


Portray


Contact us


Guest Book


View Guest







DALAM GERIMIS

Bila memang bunga harus gugur dan kupu-kupu terbang mengejar mimpi Cintalah yang membuat kita bertahan dalam gerimis.
Sayapnya merengkuhmu mengepak dalam senyap langit dan cuaca yang mengalir membawa harumnya sampai ke tepi.

Kita berbagi hingga saat rumput tumbuh di celah kaki kita Nafas senantiasa kita hembuskan agar udara di kamar ini menyekap mimpi dalam bola lampu. Terang dan hangat Kita resapkan.

Bila memang mimpi yang mempertemukan kita Biarlah gerimis menitik kaca jendela Kita hirup dinginnya. Cintalah yang mengalirkan harum cuaca di kamar ini.

1995, Putu Fajar Arcana


 
DI BAWAH LANGIT

Di bawah langit orang-orang berbaris melingkar seperti waktu yang memutar kehidupan

Kita telah bersujud menumpahkan air mata. Dan sebuah sungai mengalir

Perahu kayu yang kau rakit pada masa kecilmu tersangkut pada akar pohon. Semestinya kita hembuskan angin untuk menolaknya kembali ke dalam matamu. Agar cahaya mengeras di sarangnya Dan waktu yang memutar haluan hidupmu tak tinggal jauh di atas perbukitan.

Di bawah langit kita kembali berbaris mengalungkan cinta di leher para bidadari.

1995, Putu Fajar Arcana


 
POCI KERAMIK BUAH ASAM
denpasar

Air perasan buah asam sepanjang jalan menderas dalam poci keramik tempat minum kita.

Saat meneguk waktu terasa menua jadi arca berlumut. Kita tersesat di dalamnya menggali-gali puing menyatukannya pada sebuah tugu.

Segalanya, segalanya melaju ke masa lalu. Daun-daun jatuh lalu tumbuh jadi pohon yang sama. Orang-orang pergi lalu tiba di jalan semula; seorang tua melambai di jendela terbuka: "Kita terkurung dalam roh batu-batu,"katanya.

Buah asam bergantungan lintasan sejarah berjatuhan seperti hujan menderas dalam poci milik kita.

1995, Putu Fajar Arcana


 
JULURKAN LIDAHMU KUTA

Rasanya kita pernah bertemu kekasih. Kau julurkan lidahmu. Aku terperangkap dalam keramaian yang asing Kita pernah bersepakat tentang laut yang cemburu pada warna kulitmu. Melepuh terbakar matahari. Aku diam saat kau mencium kakiku.

Sambik menghirup udara panas seorang ibu tersipu: "Massage Sir. Mari berteduh di kerindangan pohon kecil itu,"katanya.

Tapi kita selalu berselisih jalan tentang keteduhan. Saling cemburu berebut pasir dalam bayangan rambutmu yang terbakar. Aku diam saat kau memintal rambutku.

Honey, apakah kau pernah cemburu, honey. Dalam keramaian udara milik siapa saja. Lidahmu bisa menjilati tubuh siapapun. Tapi senja tak selalu menyepuhkan samar sinarnya. Dan kau kehilangan sebelah matamu.

Kita selalu tak sepakat tentang lidah yang asing.

1995, Putu Fajar Arcana


 
MANUSIA GILIMANUK

Sampai kapan kita tahan minum air laut Tak mungkin menunggu ginjal membatu. Atau tulang remuk dalam perigi.

Kita masuki palung berlumut lewat pintu di celah Teluk. Lalu kumpulkan kulit kerang sisa makanan dalam fitrin kaca. Jadi bermanik-manik keringat. Jadi berkeping keping tembikar.

"Bisakah kita menengok ke belakang pintu, jika mata perih terpercik air payau,"katamu dari balik lobang dekat pohon singapur.

Tapi sampai kapan kita bertahan mengumpulkan ruas jari. Dalam gedung kaca baru saja kau simpan rahangmu yang membatu dalam sarkopagus. Tua sekali wajah kita ketika saling mengaca Mungkin banyak garam bersarang di pelipis.

"Jangan menoleh ke belakang. Biarkan saja Teluk pasang sampai merendam permukiman,"jawabku lama setelah melihatmu teronggok dalam lobang. Kita tak saling mengenal. Buat apa bicara. Sembunyi saja ke relung abad.

Mari ambil perahu, kita berlayar ke masa silam Mengenang-ngenang perut yang berlumut sembari menghitung anak cucu.

1997, Putu Fajar Arcana

PreV - Back to maiN
Copyright © 2000 CAK Bali Fine Art Galleries. All rights reserved.