![]() | ||||
|
PORTRAY 1 | ||||
|
| SALJU PERTAMA Pada salju pertama di musim dingin, sandarkan harapan pada kesetiaan cemara. Bukit yang memutih dan mantel bulu domba menyekap mimpi yang terlanjur membeku. Dari jauh, pada kesamaran cuaca pohon-pohon yang kaku ngingatkan kita akan kesendirian. Entah kapanini menemu jalanan tropis, di ujungnya kita mesti berbelok ke arah stasiun. "Ya. Harusnya kita meluncur dengan kereta salju, hingga stasiun tak ditinggalkan para pengembara," katanya. Tak seorang pun pergi sampai ke perbatasan. Biarkan saja gigi gemeletuk menahan sunyi. Atau kalau kau mau, meloncatlah dari jendela dan musim dingin akan tiba di halaman. Kita telah menjemputnya dengan kereta luncur di tengah-tengah serpihan tipis yang melayang. "Ya. Harusnya ia telah sampai di perbatasan. Tapi hanya pohon kaku sepanjang jalan," jawabku. Pada salju pertama di musim dingin, tetap sandarkan harapan akan mimpi yang kian membeku. 1998, Putu Fajar Arcana BAYANGAN DALAM CERMIN Mataku tak lagi membuka. Sepanjang malam bayang-bayang berloncatandari sebuah kaca jendela. Adakah cara bercermin agar diri tak menjadi buta. Karena tiba-tiba wajah kita membesar. Satu-satu mengelupas berguguran dari kedua mataku. Cermin tak lagi menyimpan bayangan. Cahaya yang berpendar dari balik punggungmu telah menyerapnya. Entah wajah siapa yang menempel di jiwaku. Sepanjang tahun perangainya berubah. Menggugurkan bunga-bunga di kepala. "Adakah cara bercermin agar diri tak menjadi buta, kehilangan bayangan, dan tiba-tiba jadi tua," kataku. Usia memang diam-diam meloncat dari sebuah lubang kecil. Di halaman pohon-pohon telah memasuki musim gugur. "Pecahkan saja cermin kaca itu. Ada wajah kita yang berabad-abad disimpannya," kata seseorang. Mataku tak membuka lagi. Disapu bayang-bayang, entah milik siapa. Mungkin Tuhan! 1998, Putu Fajar Arcana BILIK CAHAYA KEPADA LANGIT DAN DEBU KUWARISKAN AIR MATA Kepada langit dan debu kuwariskan air mata bagai cahaya bintang jatuh kilaunya meresap ke akar camara yang merunduk ditindih langit Burung menangis kehilangan sarang sedang aku terhuyung mabuk cairan kabut di tengah nasib buruk milik sendiri 1991, Putu FajarArcana PECAHKAN DINGIN Sementara gelap membawa daun cemara Gerimis mengalir sampai ke tanah rumahku Nyalakan obor dalam kamarmu dingin kabur merayap jauh, jauh kedalam senyap. Kekasih mari berpeluk mengantar sepi kepucuk cemara menanti matahari memukul gelap kita pecahkan dingin yang menggumpal di kamar ini. 1991, Putu Fajar Arcana BULAN MATI ...malam saat bulan tak muncul... Orang-orang memegang nyala dupa Memetik daun-daun menjatuhkan dosa ke tengah telaga ;sebab memuja Siwa di bulan mati terhapus dosa di masa silam. Siapakah yang menanggung dosa kita? Bulan sunyi di ujung langit Panas matahari yang bertahun disimpan lenyap seketika Pohonan menjelma patungpatung dewa Orang-orang menorehkan dosa di atas daun Mungkinkah bulan yang menanggung dosa manusia? Sebuah patung menyala kepalanya Tumpukan dosa mengambang di telaga Orang-orang terperangah menyaksikan bulan jatuh sarat dosa manusia! 1990-1991, Putu Fajar Arcana | |||